Antre Sedekah Kiai Asep, Ratusan Orang Datang Sejak Pukul 3 Malam di Siwalankerto Surabaya

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Suasana masih petang. Pukul 3 malam atau dini hari. Sebagian besar warga kota Surabaya masih terlelap tidur.

Tapi detak kehidupan di kawasan Jalan Siwalankerto Surabaya sudah mulai terasa. Para santri putri sambil mengepit kitab berbondong-bondong menuju aula Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Yaitu pesantren yang didirikan dan diasuh oleh Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA.

Di aula itu sudah ramai terdengar alunan dzikir, shalawat dan kalimat-kalimat thayyibah menggema. Beberapa ustadz mengatur posisi santri putra sekaligus menjaga agar mereka tetap dalam keadaan terjaga alias tidak ngantuk. Para santri putra memang datang lebih dulu.

Semakin lama, aula itu makin penuh santri putra dan putri. Ada sekat papan cukup tinggi yang memisahkan antara santri putra dan putri. Mereka kemudian melakukan shalat malam. Para santri putri itu juga dijaga para ustadzah. 

Di luar pondok, tepatnya di gang depan kediaman Kiai Asep Saifuddin Chalim, juga tampak ratusan orang - umumnya lansia - duduk rapi menghadap ke arah kiblat. Khusus perempuan duduk di bagian belakang sambil mengenakan mukena, sedang yang laki-laki duduk bagian depan. Mereka duduk di alas plastik yang sudah disiapkan petugas Pondok Pesantren Amanatul Ummah.

Paling depan sendiri, tepatnya dekat pos satpam Amanatul Ummah, tampak seseorang menggelar sajadah. Ia duduk sendirian paling depan.

Siapa mereka? Mereka adalah para fakir miskin yang datang dari berbagai daerah di Surabaya. Mereka menunggu sedekah Kiai Asep tiap hari Rabu pagi.

Kiai Asep tiap hari Rabu dan Senin memang istiqamah mengajar ngaji di Amananatul Ummah Surabaya. Tapi pada hari-hari selain Senin dan Rabu banyak tinggal dan mengajar ngaji di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto.

Mereka datang dan duduk sejak pulul 3 dini hari di depan kediaman Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim Jalan Siwalankerto Utara Surabaya, Rabu (6/5/2026). Foto: MMA/bangsaonline

“Kasihan sekali mereka itu. Hanya demi uang Rp 20 ribu mereka antre sejak malam,” ujar Kiai Asep kepada BANGSAONLINE, Rabu (6/5/2026) pagi.

Putra ulama pendiri NU dan pejuang kemerdekaan RI KH Abdul Chalim itu mengaku sedih.

“Saya sedih. Gimana ya Indonesia ini. Inilah cermin kemiskinan Indonesia,” ujar Kiai Asep dengan suara tertahan.

Menurut Kiai Asep, jumlah mereka terus bertambah. “Ini sudah sejak sekitar 4 tahun atau 5 tahun lalu. Awalnya tak banyak. Tapi lama-lama kian banyak,” tutur Kiai Asep.

Dulu, tutur Kiai Asep, mereka hanya datang. Setelah menerima uang langsung pulang. Tapi belakangan mereka beradaptasi dengan pesantren.

“Mereka ikut shalat Subuh,” ujar kiai miliarder tapi dermawan itu. Tapi mereka melakukan shalat jemaah sendiri. Tidak bergabung dengan para santri di dalam aula pondok.

Kiai Asep memang dikenal sebagai ulama kaya raya loman alias dermawan. Bahkan pada bulan suci Ramadan, zakat dan sedekah yang dikeluarkan mencapai Rp 6 miliar hingga Rp 8 miliar.

Tak lama berselang Casimin, ajudan Kiai Asep, keluar dari kediaman kiai asal Cirebon Jawa Barat itu. Pensiunan anggota TNI berpangkat sersan mayor itu menggenggam uang pecahan sepuluh ribuan dan lima ribuan. Casimin inilah yang mengatur pembagian uang kepada mereka.

Subuh tiba. Seorang lelaki berperawakan tinggi berdiri. Ia mengumandangkan adzan. Mereka lalu melakukan shalat berjemaah dengan seorang imam yang ditugasi Amanatul Ummah untuk membagikan uang.

Namun juga ada yang tidak ikut shalat. Mereka berdiri tak jauh dari mereka yang sedang shalat berjemaah. “Kan ada juga yang non muslim,” tutur Kiai Asep.

Seusai mereka melaksanakan shalat jemaah Subuh, Casimin memberikan segepok uang kepada imam shalat. Sang imam bersama Casimin lalu membagikan uang kepada mereka per orang Rp 20 ribu. Diantara mereka tampak ada yang tak sabar. Mereka merangsek ke depan. Tapi ada seorang petugas menyuruh mereka tertib.

“Duduk,” katanya dengan suara lantang.

Begitu dapat uang mereka langsung pergi.

Tasrip, seorang khaddam Kiai Asep, bercerita bahwa para fakir miskin itu harus mengambil kupon terlebih dulu sebelum diberi uang Rp 20 ribu. Fungsi kupon ini agar mereka bisa tertib dan jujur, tidak ambil uang sampai dua kali.

“Kupon itu dibagikan pada hari Selasa, mereka ambil uang pada hari Rabu. Tapi hari Senin mereka sudah ambil kupon,” ujar Tasrip dengan bahasa Madura menggambarkan betapa penting dan berartinya uang Rp 20 ribu itu bagi mereka.

“Jadi, mereka datang dua kali yaitu ambil kupon dulu baru hari berikutnya ambil uang,” ujar pria asal Pasuruan itu.

Bahkan mereka juga rela bangun sebelum jam 3 malam demi uang Rp 20 ribu. Padahal mereka banyak yang datang dari jauh. Terbukti, banyak di antara mereka yang mengendarai sepeda motor.

Apakah mereka yang tak memiliki kupon tak dapat sedekah Kiai Asep?

“Dapat, cuma Rp 10 ribu,” ujar Tasrip.

BANGSAONLINE sempat mewawancarai seorang ibu yang baru dapat uang. Ketika ditanya dapat berapa ia menunjukkan lembaran 5 ribuan dua lembar.

“Kupon saya tertinggal,” ujarnya.

Kiai Asep mengaku sangat ingin menaikkan sedekahnya pada mereka.

“Saya ingin menambahi menjadi Rp 30 ribu perorang. Tapi kalau saya tambahi pasti yang datang dua kali lipat,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.

Padahal, tutur Kiai Asep, pada tiap hari Rabu tidak hanya ratusan orang fakir miskin yang datang.

“Setelah mereka (fakir miskin) itu juga banyak yang datang dari beberapa lembaga dan petugas. Dan jumlahnya labih besar,” ujar Kiai Asep.

“Tapi tetap saya usahakan untuk saya tambahi,” ujar Kiai Asep kemudian sembari mengatakan tiap hari Rabu bisa mencapai 7,5 juta khusus untuk orang-orang tersebut. Tentu diluar sedekah yang lain. 

Kiai Asep kemudian menuju aula Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Ia mengajar ngaji kitab Muchtarul hadits An Nabawiyah kepada ribuan santrinya yang sudah menunggu.


Antre Sedekah Kiai Asep, Ratusan Orang Datang Sejak Pukul 3 Malam di Siwalankerto Surabaya